Jakarta - PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) merangkul Combined Space Technology Limited (CST), perusahaan di balik teknologi high-altitude platform bertenaga hidrogen milik World Mobile Stratospheric, untuk menghadirkan inovasi bernama SkyMast. Inovasi ini disiapkan sebagai solusi atas tantangan geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau terpencil dan sulit dijangkau oleh menara telekomunikasi darat maupun satelit Low Earth Orbit (LEO).

SkyMast merupakan wahana High-Altitude Platform System (HAPS) yang ditempatkan di lapisan stratosfer untuk berfungsi layaknya menara pemancar gantung. Berbeda dengan satelit yang membutuhkan perangkat penerima khusus, SkyMast menawarkan pendekatan unik karena mampu memancarkan konektivitas 4G dan 5G langsung ke ponsel (direct-to-device) yang sudah dimiliki oleh masyarakat di area terpencil.

Selain unggul dari sisi jangkauan sinyal, platform penerbangan SkyMast ini juga ramah lingkungan karena menggunakan bahan bakar hidrogen dengan uap air sebagai satu-satunya emisi yang dihasilkan.

Kerjasama Strategis Protelindo

Berdasarkan laporan dari detikINET, kesepakatan eksklusif ini diiringi dengan langkah Protelindo menjual 60% kepemilikan sahamnya di CST kepada Stratospheric Holdings Limited. Meski demikian, Protelindo tetap mempertahankan hak eksklusif penggunaan teknologi SkyMast tersebut di Indonesia, baik secara langsung maupun melalui skema mitra joint venture.

Sebelum masuk ke Indonesia, teknologi SkyMast telah dikembangkan selama lebih dari satu dekade dan melewati berbagai pengujian komersial, termasuk demonstrasi bersama operator ternama seperti BT di Inggris hingga NEOM di Arab Saudi.

Hadirnya "menara terbang" di lapisan stratosfer ini diharapkan menjadi jawaban konkret dalam memangkas kesenjangan akses internet dan digital, khususnya di kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) di seluruh wilayah nusantara.


REFERENSI:

  1. detikINET - Mengenal Teknologi SkyMast, Bisa Sebar Sinyal 5G ke Pulau Terpencil